Home / DIPOL / Bawaslu Jatim Ajak Santri Cegah Politik Uang
Seorang santri memperlihatkan ikat kepala bertuliskan"Santri Mengawasi" pada acara pembacaan ikrar komitmen santri bersama Bawaslu Jatim, di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya
Seorang santri memperlihatkan ikat kepala bertuliskan"Santri Mengawasi" pada acara pembacaan ikrar komitmen santri bersama Bawaslu Jatim, di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya

Bawaslu Jatim Ajak Santri Cegah Politik Uang

SURABAYA – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) provinsi Jatim tak main-main dalam menjaga kualitas Pilkada 2018 mendatang, tak hanya mengandalkan penyelenggara pemilu resmi, Bawaslu juga mengajak santri di Jatim untuk ikut mengawasi gelaran pesta demokrasi regional tersebut.

Berlangsung di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, ikrar dukungan santri bertajuk ‘Tri Santri’ pun dibacakan, Rabu (28/12/2017) malam.

Tak kurang dari dua ribu santri perwakilan dari sekitar lima ribu pesantren se-Jatim pun ikut ambil bagian dalam acara ini.

Isi ikrar Tri Santri itu terdiri dari tiga butir Pertama, para santri siap berpartisipasi melakukan pengawasan tahapan Pemilu 2018 dan pemilu 2019.

Kedua, para santri juga sepakat menolak money politic pada pemilu 2018 dan pemilu 2019. Terakhir, mereka juga menolak kampanye hitam pada pemilu 2018 dan pemilu 2019.

Para santri menggunakan seragam yang didominasi putih-putih. Lengkap dengan menggunakan ikat kepala bertuliskan ‘Santri Mengawasi’.

Pada penjelasannya, Ketua Bawaslu Jatim, Mohamad Amin mengungkap alasannya menjadikan pesantren sebagai sasaran pertama dalam melakukan sosialisasi pengawasan.

“Jatim memiliki sekitar 5.500 pesantren di 38 kabupaten dan kota, bisa dibayangkan, berapa jumlah santrinya, berapa jumlah anggota keluarga santrinya.” ujar Amin pada sambutannya.

Selain itu, banyaknya figur pemimpin, calon pemimpin, hingga anggota legislatif dari kalangan santri, juga menjadi pertimbangan lain bagi bawaslu untuk mengikutsertakan santri sebagai pengawas pemilu.

“Dari fakta tersebut, santri sebenarnya memiliki potensi tak sekadar sebagai objek yang diawasi. Namun, juga subjek yang ikut mengawal proses pergantian pemimpin di Jatim,” imbuhnya.

Terobosan ini merupakan program yang kali pertama dilakukan oleh Bawaslu dengan melibatkan para santri. Para santridiharapkan dapat meminimalkan jumlah pelanggaran yamg ada di pesantren.

Berdasarkan indeks kerawanan pemilu di pondok pesantren, bawaslu mencatat adanya potensi kecurangan di pesantren. Di antaranya, keterlibatan santri dari luar daerah pemilih untuk ikut serta dalam pilkada Jatim. Belum lagi dengan adanya potensi politik uang hingga merebaknya isu SARA.

Lebih lanjut, Bawaslu dalam waktu dekat akan melakukan bimbingan teknis kepada para santri dengan melibatkan pihak panwaslu dikabupaten/kota. Panwaslu akan memberikan pemahaman tentang pelanggaran pemilu serta aksi yang bisa dilakukan apabila menemukan pelanggaran tersebut.

“Kami ingin Pilkada serentak 2018 dapat berjalan damai, dan tidak banyak terjadi pelanggaran. Kami harapkan para santri dapat berperan besar untuk mewujudkan itu,” ujarnya.

Anggota Bawaslu RI, Muhammad Afifudin mengapresiasi program insiatif dari Bawaslu Jatim tersebut. “Bertambah lagi ‘mata dan telinga kita untuk membantu program pengawasan,” kata Afif di tempat yang sama.

Bahkan, lebih dari itu, Bawaslu RI juga mendorong program ini untuk diadopsi oleh bawaslu dari provinsi lain di Indonesia. “Kalau Jatim saja bisa melibatkan santri, mengapa daerah lain tidak?,” imbuhnya. (sya)

About redaksi

Check Also

Khofifah Indar Parawansa

Khofifah Ajak Relawannya Tidak Terpancing Kampanye Hitam

  JatimMandiri, SIDOARJO – Jiwa besar ditunjukkan bakal Cagub Jatim, Khofifah Indar Parawansa. Meski bertubi-tubi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *