Home / YAHUD / HIBURAN / Melestarikan Kesenian Lisan, Begini yang Dilakukan Suku di Banyuwangi
Seniman dan budayawan Banyuwangi berkumpul dan melestarikan ragam tembang Babat Tawangalun.
Seniman dan budayawan Banyuwangi berkumpul dan melestarikan ragam tembang Babat Tawangalun.

Melestarikan Kesenian Lisan, Begini yang Dilakukan Suku di Banyuwangi

JatimMandiri, Banyuwangi – Berbagai cara yang dilakukan seniman dan budayawan Banyuwangi berkumpul dan melestarikan ragam tembang Babat Tawangalun. Sebuah cerita kisah pasang surut para pangeran Blambangan.

Uniknya, tembang-tembang yang penuh makna ini dibacakan dan dinyanyikan dengan apik oleh suku-suku yang menetap di Banyuwangi. Ada Jawa, Using, Madura dan Bali. Sudah pasti, mereka membawakan tembang itu, sesuai seni, adat dan istiadat yang mereka anut.

“Bersama dengan juru tembang di Banyuwangi, dengan latar budaya yang berbeda, kami berupaya mengadaptasi naskah Babad Tawangalun untuk kemudian dilisankan dalam ragam bentuk pembacaan tembang macapat yang berbeda. Mulai Using, Madura, Bali dan Jawa,” ujar Suhalik, Juru Acara Pembacaan Tembang Lintas Budaya Babad Tawangalun, di Rumah Budaya Osing, Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Senin (18/12/2017) dinihari.

Entitas budaya yang beragam itu, kata Suhalik, sedikit banyak mewakili keragaman identitas kultural di kabupaten paling ujung Timur Pulau Jawa, sebagai tempat bermula kisah Babad Tawangalun ditulis.

Mereka menembangkan naskah Babad Tawangalun itu, sesuai dengan kultur mereka. “Kalau Jawa mereka menyebut Macapat, Bali itu Mebasa, Using itu Mocoan dan Madura itu Macaca. Kami terima dan ini sebagai bentuk persatuan. Sebuah naskah asli Banyuwangi yang ditembangkan sesuai dengan cengkok khas dari masing-masing suku yang ada di Banyuwangi,” tambahnya.

Menurut Kuncoro Prasetyaning Widi, Juru Tembang adat Jawa, acara ini merupakan bagian dari keterlibatan berbagai pihak dalam sumbangsihnya untuk keberlangsungan seni tradisi lokal. Namun demikian, acara ini juga bisa dimaknai dengan sebagai bagian dari respon atas kondisi yang tengah mengemuka saat-saat ini.

“Indonesia ini terdiri dari berbagai suku dan agama. Namun hendaknya tidak kita lupakan jika kesenian kita memiliki persamaan. Seperti halnya saat ini, kita disatukan dengan Babad Tawangalun. Meski kita melagukan sesuai dengan adat kita yang berbeda. Tapi yang kita baca sama,” ujarnya.

Hal yang sama diungkapkan Adi Purwadi, Juru Tembang Using, Mocoan. Seni budaya merupakan alat permerasatu segala suku yang ada di Indonesia. Dalam lingkup kecil seperti di Banyuwangi, beberapa suku yang menetap, seperti Jawa, Bali, Madura dan Using bisa bersatu dalam tembang Babad Tawangalun.

“Saya kira kita sepakat jika kesenian dan kebudayaan ini sebagai alat permerasatu bangsa. Dalam lingkup kecil ini, kita bisa bergantian membaca Babad Tawangalun. Kita harap kegiatan seperti ini tidak berhenti pada acara ini saja. Kita lestarikan kesenian lisan kita ini, dan mempersatukan suku,” tambahnya. int/dt.

About redaksi

Check Also

ilistrasi tidur

Susah Bangun Pagi? , Ini Solusinya

JATIMMANDIRI– Walaupun ini musim liburan bukan berarti Kamu harus bermalas-malasan, apalagi sampai bangun tidur hingga …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *