Home / EKORAT / Pembangunan Tol Pasuruan-Probolinggo Berhenti, Ini Alasannya!
Salah satu ruas jalan tol Pasuruan - Probolinggo yang kini mangkrak.
Salah satu ruas jalan tol Pasuruan - Probolinggo yang kini mangkrak.

Pembangunan Tol Pasuruan-Probolinggo Berhenti, Ini Alasannya!

JatimMandiri, Probolinggo – Pembangunan jalan tol Pasuruan-Probolinggo (PasPro) tak beroperasi, pasca warga menuntut jalan underpass. Dua alat berat yang biasa dioperasikan di perbatasan Pasuruan ujung timur, ini terbengkalai di lokasi tepatnya Desa Klampok, Kecamatan Tongas.

Alasannya, warga menuntut pihak PT Waskita dan Kementerian PUPR membangunkan jalan tembusan menuju sawah warga. Bahkan warga sempat memblokir jalan pantura Probolinggo-Pasuruan, Jumat (12/1) hingga membuat macet beberapa jam.

Jumadi, salah satu warga Desa Klampok mengatakan warga menolak proyek tol jika permintaan warga dibangunkan underpass tidak dipenuhi. Sebab, jalan underpass sangat dibutuhkan warga untuk mempermudah dan mempercepat menuju ke lokasi sawahnya.

“Sebab sebelum ada pembangunan tol, jalan setapak memang sudah ada. Bahkan jumlahnya mencapai empat jalan setapak di area pembangunan tol,” kata Jumadi kepada detikcom, Minggu (14/1/2018).

Namun adanya pembebasan lahan dan dibangunnya tol, jalan setapak tak bisa dilewati lagi. “Jadi kami memohon kepada PT Waskita dan Kementerian PUPR bisa dibangungkan underpass,” tegasnya.

 

Dia mengakui warga memaksa menghentikan pengerjaan proyek. “Permintaan kami hanya itu saja. Karena jalan setapak merupakan akses kami menuju sawah, jadi toling dibikin jalannya,” ujarnya.

Dari pantauan, warga belum membongkar tenda dan spanduk berisi tuntutan di sekitar lokasi. “Jadi tenda itu setiap harinya selalu ditempati warga untuk melihat lokasi itu, apa masih ada kegiatan pembangunan atau tidak,” tambahnya.

Sementara Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Kementrian PUPR Agus Minarno membenarkan proyek pengerjaan berhenti sementara. Sebab warga menuntut untuk dibangunkan underpass menuju lokasi sawahnya.

Namun permintaan itu tidak bisa dikabulkan. Sebab lokasi yang diminta warga bukan jalan desa. Namun hanya jalan setapak. “Jadi dalam gambar pembangunan proyek tol tak ada rencana dalam pembangunan jalan underpass di lokasi yang diinginkan warga,” terangnya.

Pihaknya, jelas dia, merencanakan membangun frontage di samping kiri dan kanan jalan tol. Sehingga petani bisa menggunakan jalan selebar 2 meter dengan panjang 900 meter untuk akses menuju sawah mereka.

“Kalau underpass tidak mungkin dibangunkan, namun untuk frontage sudah direncanakan dan sesuai gambar konstruksinya,” imbuhnya. dwi

About redaksi

Check Also

img_1470.jpg

Aklamasi, Mufti Anam Terpilih Ketum Hipmi Jatim 2017-2020

JatimMandiri, Surabaya – Musyawarah Daerah BPD HIPMI Jatim ke XIII akhirnya secara resmi memilih dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *