Breaking News
Sidang bonek - PSHT di PN Surabaya.

Terdakwa Kasus Bonek Vs PSHT Sampaikan Pembelaan

JatimMandiri, Surabaya – Majelis Hakim Pengadilan Negeri Surabaya kembali menggelar sidang keempat terdakwa dalam perkara bentrokan antara Bonek dan Persaudaraan Setia Hati Teratai (PSHT) di Jalan Raya Balongsari, Tandes, Surabaya. Sidang beragendakan pembelaan ini, digelar di ruang sidang Cakra PN Surabaya, (Kamis 22/2/2018).

Empat terdakwa dalam dua sidang perkara berbeda yaitu, terdakwa Jhenerly Simanjuntak dan Slamet Sunardi masuk dalam kategori pelanggaran UUD Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Sedangan dua terdakwa lagi, yakni Muhammad Ja’far dan Muhammad Tiyo masuk dalam kategori Penganiaan yang menyebabkan dua korban meninggal.

Persidangan dengan agenda pembelaan yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Sifaurrosidin berlangsung sedikit tegang. Pasalnya, ribuan masa dari Bonek Mania dan masa PSHT memenuhi halaman Pengadilan untuk mendampingi jalannya persidangan.

Pada saat persidangan berlangsung, masing-masing Penasehat Hukum terdakwa membacakan pembelaan. Tak hanya itu, keempatnya juga melakukan pembelaan secara lisan yang diutarakan langsung di hadapan majelis hakim.

Penasehat Hukum terdakwa perkara Penganiayaan, Gusti Prasetya pada saat membacakan pembelaan bahwa terdakwa telah menyesali perbuatan dan bersifat kooperatif.

“Terdakwa telah menyesali perbuatan, terdakwa tidak pernah dihukum sebelumnya dan terdakwa bersifat kooperatif,” ujar Penasehat Hukum Gusti Prasetya saat membacakan nota pembelaan.

Setelah Penasehat Hukum selesai membacakan pembelaan, dua terdakwa perkara kasus penganiaan, Muhammad Tiyo dan Muhammad Jafar mengajukan pembelaan secara lisan di hadapan Majelis Hakim jika dirinya telah menyesali perbuatannya serta tidak mengulangi perbuatan yang sama.

“Saya sangat menyesal, saya berjanji tidak akan mengulangi perbuatan yang sama dikemudian hari,” jelas Muhammad Tiyo saat mengutarakan pembelaan secara lisan di hadapan majelis hakim.

Hal senada juga diutarakan terdakwa Muhammad Jafar, dirinya mengutarakan jika dia anak ketiga dari orang tuanya yang kini kedua orang tuanya sudah lanjut usia. Ia mengaku menjadi tulang punggung keluarga sebagai pekerja kuli bangunan.

“Saya anak ketiga, kedua orang tua saya sudah tua, hasil kerja kuli bangunan saya berikan kepada orang tua yang sudah tidak bekerja,” beber Muhammad Jafar pada saat membacakan pembelaan lisan di hadapan majelis hakim.

Menanggapi pembelaan dari Penasehat Umum dan Pembelaan lisan dari ke empat terdakwa, Jaksa Penuntut Umum kompak pada tuntutanya.

Pada persidangan pekan lalu JPU telah menuntut dua terdakwa Muhammad Jafar dan Muhammad Tiyo dalam sidang perkara penganiayaan yang menyebabkan dua korban meninggal dengan hukuman masing-masing 10 tahun penjara sesuai Pasal 170 ayat 2 KUHPidana tentang kekerasan yang mengakibatkan kematian dan pasal 351 ayat 1 KUHPidana tentang penganiayaan.

Sedangkan dua terdakwa yang masuk kategori pelanggaran IT, Slamet Sunardi di tuntut oleh JPU 3 Tahun 6 Bulan. Sedangakan Slamet Sunardi di tuntut oleh JPU 4 Tahun 6 Bulan sesuai Pasal 45A ayat 2 UU RI Nomor 19 tahun 2016 Tentang  Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). yaq

About redaksi

Check Also

Kalah, Kontraktor Ini Ngluruk Panitia Lelang 

Post Views: 62 JATIMMANDIRI,  Lamongan – Merasa penawarannya paling rendah dibandingkan dengan peserta lelang lainnya,  …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

JatimMandiri
Assign a menu in the Left Menu options.